Friday, 5 April 2013

Perubahan Bahasa



PERUBAHAN BAHASA

Makalah disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
SOSIOLINGUISTIK

Dosen Pengampu
1.Prof. Dr. Rusman Roni, M.Pd
2.Dra. Hj.Yenny Puspita, M.Pd


Disusun oleh
HALIJAH
MUKARDI



logo


PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2013

PERUBAHAN BAHASA

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan pesan yang ada dalam pikirannya ke dalam bentuk lisan maupun tulisan. Secara internal bahasa dapat dikaji melalui struktur fonologi, morfologi, sintaksis, sampai struktur wacananya. Sedangkan kajian secara eksternal berkaitan dengan faktor-faktor yang ada di luar bahasa, seperti faktor sosiolinguistik, psikolinguistik, seni, dan sebagainya. Kajian eksternal bahasa melahirkan disiplin baru yang merupakan kajian antara dua bidang ilmu  atau lebih. Seperti sosiolinguistik yang merupakan kajian antara sosiologi dan linguistik, psikolinguistik merupakan kajian psikologi dan linguistik, neurolinguistik merupakan kajian  antara  neurologi dan linguistik.
Dalam pengguna bahasa tersebut,  belakangan ahli bahasa  dalam pengguna bahasa  tidak  hanya dapat  mengamati bagaimana sebuah bahasa terdistribusi  di masyarakat, tetapi juga bagaimana  sebuah perubahan terjadi dalam suatu bahasa.
Dewasa ini adanya perubahan bahasa ditinjau dari pandangan tradisional, perubahan – perubahan yang sedang terjadi dan mekanisme perubahan,  para ahli banyak yang memperdebatkan masalah perubahan bahasa, apakah dapat diamati atau tidak.

1.2  Perumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah bagaimana  perubahan bahasa ditinjau dari perubahan yang sedang terjadi, pandangan tradisional, dan mekanisme perubahan itu sendiri.

1.3 Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah  mendeskripsikan perubahan bahasa, mekanisme, dan pandangan tradisional tentang perubahan bahasa.

2. PEMBAHASAN

2.1 Perubahan Bahasa
(Wadhaught dalam Chaer) menyatakan bahawa perubahan bahasa itu tidak dapat diamati, sebab perubahan itu sudah menjadi sifat hakiki bahasa, berlangsung dalam waktu yang relatif lama, sehingga tidak mungkin diobservasi oleh seseorang dalam waktu yang terbatas. Namun yang dapat diketahui adalah bukti adanya perubahan bahasa itu. Inipun terbatas pada bahasa-bahasa yang mempunyai tradisi tulis, dan mempunyai dokumen tertulis dari masa-masa yang sudah lama berlalu.
Perubahan bahasa lazim diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya direvisi, kaidahnya menghilang, atau munculnya kaidah baru, dan semuanya itu dapat terjadi pada semua tataran linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik maupun leksikon.
Pada bahasa-bahasa yang mempunyai sejarah panjang tentu perubahan-perubahan itu sudah terjadi berangsur dan bertahap.
Menurut Sausure (1959) dan Bloon Fleld (1913) yang dapat kita lakukan  adalah mengamati akibat dari perubahan bahasa tersebut. Akibat yang terutama dari perubahan bahasa, adanya perbedaan  terhadap struktur bahasa tersebut, para ahli bahasa awalnya mengamati perubahan bahasa dalam bentuk adanya variasi bahasa.

      2.1.1  Perubahan Fonologi
                  Chaer (2004:137) Perubahan fonologis dalam bahasa Inggris ada juga yang berupa penambahan fonem. Bahasa Inggris kuno  dan pertengahan tidak mengenal fonem /z/. lalu ketika terserap kata-kata seperti azure, measure, rouge dari bahasa prancis, maka fonem /z/ tersebut ditambahkan dalam khazanah fonem bahasa inggris. Perubahan bunyi dalam sistem fonologi bahasa Indonesiapun dapat kita lihat. Sebelum berlakunya EYD, fonem /f/, /x/, dan /s/ belum dimasukan dalam khazanah fonem bahasa Indonesia; tetapi kini ketiga fonem itu telah menjadi bagian khazanah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia lama hanya mengenal empat pola silabel, yaitu V, VK, KV, dan KVK; tetapi kini pola KKV, KKVK, KVKK telah pula menjadi pola silabel dalam bahasa Indonesia.

      2.1.2   Perubahan Morfologi
Chaer (2004: 137) Perubahan bahasa dapat juga terjadi dalam bidang morfologi yakni dalam proses pembentukan kata. Umpamanya, dalam bahasa Indonesia ada proses penasalan dalam proses pembentukan kata dengan prifeks me-  da pe-. Kaidahnya adalah: (1) apabila kedua prifeks itu diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /I/, /r/, /w/, dan /y/ tidak terjadi penasalan; (2) kalau diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /b/ dan /p/ diberi nasal /na/; (3) kalau diimbuhkan pada kata yanmg dimulai dengan konsonan /d/ dan /t/ diberi nasal /n/; (4) kalau diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /s/ diberi nasal /ny/; dan bila diimbuhkan pada kata yang dimulai dengan konsonan /g/, /k/, /h/, dan semua vokal diberi nasal /ng/.

      2.1.3    Perubahan Sintaksis
Chaer (2004: 138) Perubahan kaidah sintaksis dalam bahasa Indonesia juga dapat kita saksikan. Umpamanya, menurut kaidah sintaksis yang berlaku sebuah kalimat aktif transitif harus selalu mempunyai objek; atau dengan rumusan lain, setiap kata kerja aktif transitif harus selalu diikuti oleh objek. Tetapi dewasa ini kalimat aktif transitif banyak yang tidak dilengkapi objek, seperti:
      -          Reporter anda melaporkan dari tempat kejadian.
      -          Pertunjukan itu sangat mengecewakan.
      -          Sekretaris itu sedang mengetik di ruangannya.
      -          Dia mulai menulis sejak duduk di bangku SMP.
      -          Kakek sudah makan, tetapi belum minum.

      2.1.4     Perubahan Kosakata
                  Chaer (2004: 139) Perubahan bahasa yang paling mudah terlihat adalah pada bidang kosakata. Perubahan kosakata dapat berarti bertambahnya kosakatanya baru, hilangnya kosakata lama, dan berubahnya makna kata. Bahasa inggris yang diperkirakan memiliki lebih dari 60.000 kosakata adalah “berkat” penambahan kata-kata baru dari berbagai sumber bahasa lain, yang telah berlangsung sejak belasan abad yang lalu. Sedangkan bahasa Indonesia yang kabarnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki sekitar 65.000 kosakata (dalam kamus poerwadarminta hanya terdapat 23.000 kosakata) adalah juga berkat tambahan berbagai sumber, termasuk bahasa-bahasa asing dan bahasa-bahasa nusantara.

      2.1.5      Perubahan Semantik
Chaer (2004: 141) Perubahan semantik yang umumnya adalah berupa perubahan pada makna butir-butir leksikal yang mungkin berubah total, meluas, atau juga menyempit. Perubahan yang bersifat total, maksudnya, kalau pada waktu dulu kata itu, mialnya, bermakna ‘A’, maka kini atau kemudian menjadi bermakna ‘B’.
                  Perubahan makna yang sifatnya meluas (broadening), maksudnya dulu kata tersebut hanya memiliki satu makna, tetapi kini memiliki lebih dari satu makna. Dalam bahasa inggris kata holiday asalnya hanya bermakna ‘hari sucu (yang berkenaan dengan agama)’, tetapi kini bertambah dengan makna ‘hari libur’,.
                  Perubahan makna yang menyempit, artinya kalau pada umumya kata itu memiliki makna yang luas, tetapi kini menjadi lebih sempit maknanya. Umpamanya, kata sarjana dalam bahasa Indonesia pada mulanya bermakna ‘orang cerdik pandai’, tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang sudah lulus dari perguruan tinggi’.

Dalam pengguna bahasa tersebut,  belakangan ahli bahasa  dalam pengguna bahasa  tidak  hanya dapat  mengamati bagaimana sebuah bahasa terdistribusi  di masyarakat, tetapi juga bagaimana  sebuah perubahan terjadi dalam suatu bahasa.
Perubahan bahasa yang terjadi di dalam internal bahasa sendiri, yang menyebabkan perbedaan struktur bahasa  akibatnya dalam jangka waktu tertentu sebuah kata  diucapkan  berbeda seperti pada kata  dalam bahasa Inggris ada dua kata berbeda  untuk menyebutkan kuda, horse dan hoarse. Dan ada juga dua kata yang awalnya berasal dari satu kata seperti thin dan thing, sehingga terjadi satu unit pengucapan  kata menjadi dua. Perubahan yang kedua  adalah perubahan yang hakekatnya  merupakan perubahan eksternal. Perubahan ini terjadi akibat adanya peminjaman (borrrowing) daribahasa//dialek lain ke dalam sebuah bahasa. Dalam bahasa Inggris  contohnya adalah pengucapan zh,ut\ dalam contoh mengucapkan jeanne. Beberapa bahasa di dunia juga mengalami peminjaman  dari bahasa –bahasa lain, seperi bahasa hindu banyak meminjam dari bahasa Sansekerta, atau bahasa Urdu dari bahasa Arab.
Peminjaman  kadang kala terjadi tidak hanya  kepada tataran pengucapan saja, tetapi juga kepada tataran tata bahasa meskipun hal ini sangat terbatas.

2.2  Pandangan Tradisional
Perubahan bahasa yang terjadi didalam internal bahasa sendiri, yang menyebabkan perbedaan struktur bahasa. Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu sebuah kata diucapkan berbeda. Dalam bahasa Inggris, ada dua kata berbeda untuk menyebut kuda, horse dan hoarse. Juga ada dua kata yang awalnya berasal dari satu kata, thin dan thing. Sehingga terjadi satu unit pengucapan kata menjadi dua.
Perubahan yang kedua adalah perubahan yang hakikatnya merupakan perubahan eksternal. Perubahan ini terjadi akibat adanya peminjaman (borrowing) dari bahasa/dialek lain ke dalam sebuah bahasa. Dalam bahasa Inggris contohnya adalah pengucapan Zh untuk J dalam contoh mengucapkan Jeanne.
Beberapa bahasa di dunia juga mengalami pemijaman dari bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Hindi banyak meminjam dari bahasa Sansakerta, atau bahasa Urdu dari bahasa Arab. Peminjaman kadangkala terjadi tidak hanya kepada tataran pengucapan saja tetapi juga kepada tataran tata bahasa meskipun hal ini sangat terbatas.
Pandangan tradisional terhadap perubahan bahasa juga tertarik melihat “kekerabatan bahasa”/ ” keluarga bahasa” dan hubungan antara bahasa-bahasa. Ahli bahasa merekonstruksi sejarah bahasa yang saling berhubungan, yang memiliki kemiripan, sehingga dapat melihat suatu saat di masa lalu ketika satu bahasa terpecah atau hilang.
Pendekatan alternatif, gelombang bahasa, lebih mudah digunakan dalam melihat perubahan bahasa. Dengan pendekatan ini, perubahan bahasa yang timbul dilihat sebagai sebuah aliran dan interaksi bahasa-bahasa. Meskipun tidak mudah untuk melihat aliran bahasa yang masuk ke suatu bahasa.  Ini merupakan jenis perubahan bahasa yang ketiga, yaitu bahwa bahasa berkembang dan menyebar. Pengamatan mengenai perkembangan bahasa ini disebut etimologi, yaitu kajian yang menyelidiki asal usul kata.
Dengan konsep “gelombang” dan “difusi” bahasa, akan membantu kita memahami proses perubahan bahasa. Konsep mengenai “keluarga/kekerabatan bahasa” melihat akibat yang ditimbulkan dalam perubahan yang terjadi dalam sebuah bahasa.

2.3 Beberapa Perubahan Bahasa yang sedang Berlangsung
Beberapa ahli bahasa mengamati perubahan bahasa yang sedang terjadi. Misalnya, Chambers dan Trudgill (1980) menjelaskan perkembangan pengucapan r uvular (pengucapan dengan anak lidah) dalam bahasa Eropa Barat dan Eropa Utara. Dulu pengucapan r di wilayah tersebut dengan apikal (menempelkan ke langit-langit) atau bergetar, tetapi mulai abad ke-17 cara pengucapan r uvular menyebar dari Paris menggantikan cara pengucapan r yang lain. Cara pengucapan ini menjadi cara pengucapan standar di Perancis, Jerman, dan Denmark, juga ditemukan di Belanda, Swedia, dan Norwegia.
Seorang ahli bahasa, Gimson (1962) mengamati bahwa beberapa pengucapan huruf vokal diftong cenderung diucapkan menjadi satu huruf vokal, contoh pada kata home. Gejala ini biasanya terjadi pada lingkungan anak muda. Di AS, beberapa contoh ditemui, misal: naughty à notti, caught à cot, dawn à don.
Dari contoh di atas dapat diamati bahwa faktor usia, anak muda kecenderungan untuk menggunakan bahasa yang berbeda dengan generasi yang lebih tua. Meksipun, faktor usia bukanlah jaminan mengenai fenomena perubahan bahasa. Bukan jaminan, ketika sekelompok anak muda menggunakan bahasa yang berbeda dengan mereka yang lebih tua, tetapi kemungkinan pada kurun tertentu di masa ketika mereka menjadi lebih dewasa/tua mereka tetap mempertahankan gaya bahasa mereka. Bisa jadi mereka akan menggunakan bahasa sesuai dengan usia mereka. Untuk melihat fenomena ini, maka metode penelitian survei cocok untuk diterapkan. Penelitian dilakukan kepada penggunaan bahasa oleh sampel sekelompok anak muda, kemudian ketika mereka berusia 20 – 30 tahun, penggunaan bahasa mereka di cek lagi apakah cenderung sama atau berubah, dan hasilnya dibandingkan.
Penelitian yang membandingkan dua set data pada dua kurun waktu yang berbeda dilakukan oleh Labov (1963) dalam hal pengucapan bahasa di Vineyard Martha, tiga mil dari Massachussets, penduduknya terdiri dari orang Yankee, Portugis, dan Indian America. Penelitiannya berfokus kepada dua set kata: (1) out, house, dan trout dan (2) while, pie, dan night. Penelitian dilaksanakan pada tahun 1930. Variabel penelitian dua set, pertama (aw) untuk variabel (au ) atau (əu), kedua (ay) untuk variabel (ai) atau (ei).
Pada tahun 1972, Labov mempublikasikan temuannya. Penjelasan dari temuannya adalah penduduk asli merasa lebih memiliki pulau mereka dengan menggunakan variabel pertama (aw) dan (ay). Temuan tersebut mengindikasikan bahwa anak muda masih bebas untuk memilih, di mana akan tinggal. Tidak seperti orang tua, yang merasa nyaman dengan tempat tinggalnya, sehingga cenderung memilih penggunaan bahasa yang berbeda dari pada ketika masih mudanya.
Labov juga mengamati perbedaan pengucapan r oleh kelompok sosial kelas menengah yang cenderung lebih “hiperkorektif” dalam mengucapkan r dengan pengucapan yang lebih jelas, juga oleh laki-laki dari pada perempuan. Perempuan mulai mengucapkan r dengan lebih jelas seperti halnya laki-laki.  Hal ini mengindikasikan bahwa kelas sosial yang lebih rendah telah menerima gaya bahasa yang formal.
Trudgill (1972) mengamati perubahan bahasa yang sedang terjadi. Dia mengamati bahwa pekerja wanita lebih suka mengucapkan (ng) dengan (n), contoh pada kata singing, wanita mengucapkan (singin’) bukan (singing). Pengamatannya menghasilkan temuan bahwa perubahan bahasa juga ditentukan oleh faktor gender.
Cheshire (1978) melakukan penelitian di Reading, Inggris. Dia menemukan bahwa anak laki-laki dari strata kelas sosial bawah lebih sering menggunakan sintaksis bahasa yang tidak standar dari pada anak perempuan. Gejala ini menunjukkan, adanya “solidaritas” dalam penggunaan bahasa.
Penelitian-penelitian di atas mengarahkan kita untuk membatasi area yang mengakibatkan perubahan bahasa. Yang memotivasi perubahan bahasa dapat beragam, mulai dari: mencoba menjadi warga kelas “yang lebih tinggi” atau sebaliknya “lebih rendah”, agar tidak dianggap “orang asing”, atau agar dianggap memiliki jiwa “solidaritas”. Wanita juga dianggap cukup aktif dalam membawa perubahan bahasa, meskipun laki-laki juga bisa.

2.4  Mekanisme Perubahan
Menurut Labov (1972) ada beberapa mekanisme dasar dalam perubahan bahasa. Mekanisme yang memiliki tiga belas tahapan, dan Labov menyebut delapan tahapan pertama sebagai “perubahan dari bawah”, sementara lima sisanya disebut sebagai perubahan dari atas”. Berikut ketiga belas tahapan tersebut:
1.   Bunyi berubah biasanya bermula ketika penggunaan bahasa anggota kelompok dari komunitas penutur bahasa tertentu terbatasi, yaitu masa dimana ketika identitas komunitas yang terpisah menjadi lemah. Bentuk linguistik yang berganti biasanya berupa penanda status wilayah dengan distribusi penggunaan bahasa yang tidak merata dalam masyarakat. Pada tahap ini, variabel linguistik yang berubah belum ditentukan.
2.  Perubahan baru terjadi ketika ada generalisasi bentuk (pola) linguistik oleh anggota kelompok penutur bahasa; tahapan ini biasanya disebut dengan perubahan dari bawah, yaitu perubahan yang terjadi dari kesadaran sosial. Variabel linguistik menunjukkan belum ada pola variasi gaya bahasa dalam penggunaan bahasa oleh penuturnya, namun mempengaruhi semua kelas kata yang telah ada sebelumnya. Variabel linguistik pada tahap ini ini merupakan sebuah indikator yang ditetapkan sebagai fungsi keanggotaan pada komunitas sosial.
3.   Berhasil meningkatkan jumlah penutur bahasa pada kelompok sosial yang sama serta berhasil merespon tekanan sosial masyarakat yang sama, membawa variabel linguistik menuju proses perubahan bahasa, menjadi berbeda dari bahasa induknya. Perubahan ini disebut perubahan hiperkorektif dari bawah.
4.   Ketika sistem nilai masyarakat penutur asli bahasa diadopsi oleh kelompok masyarakat lain, perubahan bunyi-bunyi bahasa yang berkaitan nilai-nilai kemasyarakatan tersebut agar menyebar kepada kelompok masyarakat yang mengadopsinya.
5.  Batas dari penyebaran perubahan bahasa merupakan batas dari komunitas  bahasa.
6.  Ketika perubahan bunyi bahasa dengan segala nilai-nilai sosial yang melekat didalamnya mencapai batas penyebarannya, maka variabel linguistik menjadi  salah satu norma yang menjadi bagian dari masyarakat, dan akan dijaga oleh masyarakat. Variabel linguistik ini sekarang menjadi penanda dan akan mulai menunjukkan variasi/gayanya sendiri.
7.   Perubahan variabel linguistik di dalam sistem linguistik akan selalu menyesuaikan distribusi unsur-unsur linguistik yang lain dalam tataran fonologi.
8.   Penyesuaian struktur menyebabkan perubahan bunyi kebahasaan yang masih berhubungan dengan bahasa asalnya. Tetapi kelompok penutur bahasa yang baru akan memperlakukan bunyi bahasa yang diterimanya sebagai bunyi baru dalam komunitas penutur bahasa tersebut.
9.   Apabila kelompok penutur bahasa yang menerima bahasa baru bukan dari kelas yang lebih tinggi, maka kelompok masyarakat yang berasal dari kelas yang lebih tinggi akan “mempengaruhi” bentuk linguistik.
10. Perubahan diatas merupakan perubahan dari atas,  suatu koreksi bagi bentuk kebahasaan yang berubah karena mendapat pengaruh dari bahasa kelompok masyarakat yang lebih tinggi, yaitu model bahasa yang prestis.
11. Apabila model bahasa prestis (bergengsi) tidak mendukung bentuk kebahasaan yang digunakan oleh kelompok masyarakat dalam beberapa bentuk kelas kata, maka kelompok lain akan melakukan hiperkoreksi, memasukkan unsur kebahasaan yang seharusnya dilakukan oleh bahasa prestis.. Ini disebut dengan hiperkoreksi dari atas.
12.  Dalam perubahan yang kuat, satu bentuk kebahasaan akan muncul, dan  mungkin juga menghilang. Hal ini disebut dengan streotipe / model bahasa.
13.  Apabila perubahan bahasa terjadi pada kelas sosial yang lebih tinggi, bentuk bahasa akan menjadi model bahasa prestis. Bahasa yang kemudian akan diadopsi oleh penutur bahasa yang lain sesuai dengan proporsi kontak bahasa penutur bahasa terebut dengan bahasa prestis .

Perubahan bahasa terjadi melalui cara-cara yang kompleks dengan berbagai jalan perubahannya, secara sadar atau tidak sadar dalam perubahan bahasa, tempat yang membuat tingkat sosial masyarakat ikut mempengaruhi perubahan.
Perubahan bahasa dari atas merupakan perubahan bahasa secara sadar. Seharusnya perubahan tersebut juga diikuti oleh pola-pola linguistik yang standar. Perubahan dari bawah merupakan perubahan bahasa secara tidak sadar dan cara tersebut jauh dari pola-pola linguistik standar.  Yang menarik juga adalah wanita dianggap kelompok pertama yang membawa perubahan bahasa, sementara laki-laki kedua. Wanita memiliki motivasi untuk mengikuti dan menyesuaikan dengan pengguna bahasa yang lebih kuat sementara laki-laki cenderung mengikuti temannya. Wanita cenderung lebih sadar untuk memahami perubahan bahasa sementara laki-laki tidak.






3. SIMPULAN

Perubahan bahasa berarti adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya direvisi, kaidahnya menghilang, atau munculnya kaidah baru, dan semuanya itu dapat terjadi pada semua tataran linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik maupun leksikon
Mekanisme dasar dalam perubahan bahasa memiliki tiga belas tahapan, perubahan bahasa dari atas merupakan perubahan bahasa secara sadar, yang diikuti oleh pola linguistik yang standar sedangkan perubahan dari bawah merupakan perubahan secara tak sadar.
Yang memotivasi perubahan bahasa dapat beragam, mulai dari  mencoba menjadi warga kelas “yang lebih tinggi” atau sebaliknya “lebih rendah”, agar tidak dianggap “orang asing”, atau agar dianggap memiliki jiwa “solidaritas”


















DAFTAR PUSTAKA
.
Aslinda dan Leni Syafyahya. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: PT. Refika Aditama.

Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.  Jakarta: Rineka Cipta

No comments:

Post a Comment

Post a Comment