Friday, 29 March 2013

Proposal penelitian: Kemampuan Menulis Puisi



PROPOSAL PENELITIAN

KEMAMPUAN MENULIS PUISI, MENYIMAK LAGU DAN MEMBACA KREATIF PADA SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 1
 MUARA PADANG KABUPATEN BANYUASIN

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Dalam pelaksanaannya, pengajaran sastra sering diarahkan pada aspek pengetahuan saja. Materi yang diberikan kepada siswa hanya sampai pada pengetahuan tentang pengertian dan jenis karya sastra, periodisasi sastra Indonesia, nama-nama sastrawan dan karya-karyanya, dan materi-materi la aspek afektif dan psikomotorik masih sangat kurang porsinya.
Puisi merupakan salah satu genre sastra sedangkan sastra sendiri adalah bagian dari seni. Menurut Sudaryat dan Natasasmita (1987: 170), keindahan puisi terletak pada persamaan bunyi (rima, sajak) dan iramanya yang indah. Dengan demikian, sangat dimungkinkan terjadinya kolaborasi antara seni sastra (puisi) dengan seni musik. Keduanya (musik dan puisi) saling mendukung satu sama lain, baik isi maupun bentuknya. Keindahan puisi akan lebih terasa kalau dilagukan, misalnya dalam bentuk musikalisasi puisi. Begitu pula keindahan musik (lagu) akan terasa bermakna kalau dibahasakan (dengan puisi), dalam bentuk lirik lagu.
Adanya kolaborasi antargenre seni, seperti seni musik dengan seni sastra (puisi), akan menghasilkan karya-karya kreatif. Dalam usaha menghasilkan karya- karya kreatif yang berupa puisi, baik yang berkolaborasi menjadi lirik lagu maupun yang independen sebagai puisi dapat melalui kegiatan menulis kreatif karya sastra berbentuk puisi. Kegiatan menulis puisi itu sendiri tidak datang dengan sendirinya melainkan melalui proses. Proses menghasilkan karya puisi dapat melalui kegiatan menyimak dan membaca terlebih dahulu. in yang hanya mencakup aspek kognitif saja. Adapun pembelajaran mengapresiasi dan memproduksi karya sastra (melalui kegiatan menulis karya sastra) yang mencakup Tidak dipungkiri bahwa puisi adalah seni yang bermediakan bahasa. Dalam pengajaran bahasa dan sastra, di sekolah diberikan empat jenis keterampilan berbahasa.
Keempat jenis keterampilan tersebut adalah mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Penguasaan keterampilan berbahasa tersebut terjadi secara bertahap. Awalnya, anak mengenal bahasa melalui menyimak. Setelah menyimak, anak tersebut berusaha untuk berbicara menirukan bahasa yang disimak. Tahap berikutnya, anak akan berlatih membaca dan berusaha untuk mengenal bentuk tulisan (wacana). Setelah itu, ia akan berusaha untuk menulis. Jadi, antarkeempat keterampilan berbahasa tersebut memiliki keterkaitan yang erat. Empat keterampilan tersebut merupakan satu kesatuan, merupakan catur tunggal (Tarigan 1986: 2). Hubungan antarjenis keterampilan berbahasa ini sangat berkaitan dengan proses penciptaan puisi.
Proses kreatif menulis puisi juga berkaitan dengan kegiatan membaca, utamanya membaca kreatif. Menurut Harras dan Sulistyaningsih (1997: 2.30), membaca kreatif memerlukan pencermatan ide-ide yang dikemukakan penulis
kemudian dibandingkan dengan ide-ide sejenis yang mungkin berbeda. Dengan membaca kreatif, akan didapatkan ide baru yang diaplikasikan pembaca setelah kegiatan membaca itu dalam bentuk aktivitas yang akan meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam proses menulis puisi, aktivitas yang dimaksud setelah membaca kreatif adalah kegiatan menulis puisi itu sendiri berdasarkan ide-ide yang didapatkan dari bahan bacaan.
Mengapa kegiatan menulis harus diajarkan? Sebab menulis dapat memberikan berbagai manfaat. Menurut Akhadiah (1995: 1), ada beberapa manfaat menulis. Menulis dapat menambah wawasan mengenai suatu topik karena penulis mencari sumber informasi tentang topik tersebut. Menulis merupakan sarana mengembangkan daya pikir atau nalar dengan mengumpulkan fakta, menghubungkannya, kemudian menarik kesimpulan. Menulis juga dapat memperjelas sesuatu kepada diri penulis karena gagasan-gagasan yang semula masih berserakan dan tidak runtut di dalam pikiran, dapat dituangkan secara runtut dan sistematis. Melalui kegiatan menulis, sebuah gagasan akan dapat dinilai dengan mudah. Manfaat menulis yang lainnya adalah dapat memecahkan masalah dengan lebih mudah, memberi dorongan untuk belajar secara aktif, dan membiasakan diri berpikir dan berbahasa secara tertib.
Mengingat kemampuan menulis merupakan sebuah keterampilan penting yang harus dikuasai oleh siswa, perlu adanya pembinaan dan pengembangan secara intensif dan berkesinambungan Lebih khusus lagi, Jabrohim dkk (2003: 67) mengemukakan bahwa menulis kreatif sastra (puisi) merupakan suatu kegiatan seseorang “intelektual yang menuntut seorang penulis harus benar-benar cerdas, menguasai bahasa, luas wawasannya, sekaligus peka perasaannya. Syarat-syarat tersebut menjadikan hasil penulisan puisi berbobot intelektual, tidak sekedar bait-bait kenes, cengeng, dan sentimental. Menulis puisi juga dapat menggabungkan antara pengembangan fakta-fakta empirik dengan daya imajinasi menjadi sebuah tulisan yang bermakna bagi manusia yang mempunyai kesadaran eksistensial. Hal ini akan tercapai apabila penulis puisi (penyair) banyak mengasah kepekaan kritisnya dan banyak melaksanakan proses kreatif.
Proses kreatif menulis puisi memberikan hasil yang positif bagi para siswa. Dengan menulis puisi, siswa dilatih untuk tidak meremehkan pengalaman- pengalamannya. Segala sesuatu yang dilihat dan dialaminya selalu tidak luput dari perhatiannya. Dia menjadikan semua yang dilihat, didengar, dan dirasa sebagai sesuatu yang bermakna bagi manusia. Wujud perhatian dan usaha menjadikan pengalaman-pengalaman itu sebagai sesuatu yang bermakna bagi manusia di antaranya adalah menuangkan atau menuliskan apa yang dialaminya ke dalam bentuk puisi (Jabrohim dkk, 2003: 31).
Hal inilah yang mendorong penelitian ini, yakni untuk meneliti seberapa besar sumbangan atau kontribusi kebiasaan menyimak lagu dan membaca kreatif terhadap kemampuan menulis puisi siswa. Sasaran penelitian adalah siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin mengingat siswa yang notabene berusia remaja tentunya menyukai dan membiasakan diri mendengarkan musik atau lagu, terutama yang sesuai dengan kondisi psikis mereka.
Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin sebagai tempat penelitian karena SDN tersebut belum pernah dilakukan penelitian yang serupa.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut.
Seberapa besarkah kontribusi kebiasaan menyimak lagu terhadap kemampuan
menulis puisi siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin
Seberapa besarkah kontribusi kebiasaan membaca kreatif terhadap kemampuan
menulis puisi siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin
Seberapa besarkah kontribusi kebiasaan menyimak lagu dan membaca kreatif
terhadap kemampuan menulis puisi siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin

1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang masalah, pembatasan masalah, dan rumusan
masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:erhadap kemampuan menulis puisi siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin mengetahui dan mendeskripsikan besarnya kontribusi kebiasaan membaca kreatif terhadap kemampuan menulis puisi siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini berada dalam lingkup kebiasaan menyimak lagu, membaca kreatif, dan kemampuan menulis puisi siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin . Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Penelitian ini juga berguna untuk memberikan sumbangan bagi pengajaran apresiasi sastra, khususnya puisi, melalui pemanfaatan media lagu. Penelitian ini berguna pula untuk mengembangkan keterampilan menyimak dan membaca, khususnya membaca kreatif untuk mendukung keterampilan menulis kreatif sastra (puisi)
2.      Penelitian ini diharapkan menjadi landasan atau dasar dan sumber informasi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan upaya meningkatkan kebiasaan menyimak lagu, mengoptimalkan kebiasaan membaca kreatif, dan kemampuan menulis puisi

BAB II
KAJIAN TEORI
Deskripsi Teori
            Keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis menjadi aspek penting dalam belajar bahasa dan sastra Indonesia. Keempat keterampilan berbahasa tersebut tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan lainnya. Keempat keterampilan tersebut juga mempunyai kedudukan yang saling mendukung dalam pencapaian keterampilan berbahasa seseorang. Dalam pengajaran keterampilan berbahasa, satu aspek keterampilan berhubungan dengan aspek keterampilan yang lain dalam kedudukan sejajar. Walaupun demikian, pemerolehan berbahasa secara umum dikuasai secara bertahap, yaitu mula-mula menyimak, berbicara, membaca, kemudian menulis.
1. Hakikat Menyimak Lagu
            Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Salah satu kegiatan menyimak yang berhubungan erat dengan ragam bahasa sastra adalah menyimak lagu. Mengingat, lagu memuat lirik-lirik yang ragam bahasanya mirip dengan salah satu genre sastra, yaitu puisi. Berikut ini akan dipaparkan pengertian dan hakikat menyimak, lagu, dan hakikat menyimak lagu itu sendiri.
a.HakikatMenyimak
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 1066), menyimak berarti
mendengarkan (memperhatikan) apa yang diucapkan atau dibaca orang atau
meninjau (memeriksa, mempelajari) dengan teliti. Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa menyimak merupakan kegiatan mendengarkan. Hanya bedanya, dalam kegiatan mendengarkan, kegiatan menerima bunyi ujaran melalui indra pendengar tidak secara intensif dan interpretatif.
            Sementara itu, Tarigan (1987: 28) mengidentifikasi bahwa menyimak
merupakan suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan.
            Menurut Suriamiharja (1996: 12-13), menyimak merupakan kegiatan melakukan proses pemahaman yang berarti menambah pengetahuan. Kegiatan menyimak berperan sebagai: (1) dasar belajar bahasa, (2) penunjang keterampilan berbicara, membaca, dan menulis, (3) pelancar komunikasi lisan, dan (4) penambahan informasi.
Lagu
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 624), lagu berarti ragam suara yang berirama (dalam bercakap, bernyanyi, membaca, dan sebagainya), nyanyian, atau ragam nyanyi (musik, gamelan, dan sebagainya). Di dalam lagu biasanya terdapat lirik lagu yang menggunakan kata-kata puitis. Oleh karena itu, lagu sangat berhubungan dengan puisi karena keduanya sama-sama mempunyai
unsur irama.
            Sakdiyah (2002) mengutip pendapat Maley yang menyatakan bahwa lagu dan puisi sangatlah berirama. Unsur irama ini merupakan petunjuk susunan atau struktur pesan yang terdapat di dalam lagu atau puisi. Sakdiyah (2002) juga menyatakan bahwa lagu dapat dianggap sebagai suatu alat dan bahan yang efektif untuk pengajaran apresiasi puisi. Hal ini sejalan dengan pendapat Orlova yang dikutip Sakdiyah (2002), yang menyebutkan bahwa lagu dianggap sebagai suatu alat yang efektif untuk pengajaran bahasa.
            Untuk mendukung pendapatnya tersebut, Orlova juga mengemukakan beberapa alasan antara lain: (1) lagu dapat menampilkan fungsi yang berbeda dalam pengajaran bahasa (terutama puisi), (2) lagu dapat menjadi pendorong untuk melakukan percakapan di kelas, (3) lagu dapat memotivasi suatu pendekatan emosional untuk belajar bahasa, (4) lewat lagu siswa dapat mengekspresikan sikapnya terhadap apa-apa yang telah dia dengar, dan (5) lagu juga dapat membantu perkembangan estetis seseorang.
            Berdasarkan uraian tersebut, lagu berhubungan erat dengan puisi. Lagu dapat dijadikan sebagai salah satu media pembelajaran puisi, baik pembelajaran apresiasi maupun penulisan kreatif puisi. Penggunaan media lagu akan menambah ketertarikan siswa dalam belajar sastra terutama puisi.
Menyimak Lagu
            Menyimak lagu adalah suatu kegiatan mendengarkan secara intensif dan interpretatif suatu pesan yang berbentuk lagu. Adapun kebiasaan menyimak lagu merupakan kegiatan menyimak lagu yang dilakukan terus-menerus dan telah menjadi suatu kebiasaan.
            Kegiatan menyimak lagu yang telah menjadi kebiasaan akan menumbuhkan pengalaman musikal. Pengalaman ini sangat berguna bagi siswa. Pengalaman musikal ini dapat digunakan sebagai salah satu sarana pembelajaran menulis kreatif puisi.
2. Hakikat Membaca Kreatif
            Membaca juga termasuk salah satu keterampilan berbahasa. Kegiatan membaca kreatif, sebagai salah satu tingkatan dalam keterampilan membaca, mempunyai peran yang besar dalam penciptaan sebuah karya sastra, khususnya puisi. Berikut ini dijelaskan hakikat membaca, tujuan membaca, dan pengertian membaca kreatif.
a. Pengertian Membaca
            Menurut Hodgoson yang dikutip oleh Tarigan (1987: 7), membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media bahasa tulis. Dijelaskan pula bahwa membaca dapat dianggap sebagai proses untuk memahami hal tersirat dan melibatkan pikiran yang terkandung dalam kata-kata yang tertulis.
            Saat melakukan kegiatan membaca, pembaca memerlukan kejelian untuk mengetahui isi yang tersurat sekaligus yang tersirat. Finochiaro dan Bonomo seperti dikutip oleh Tarigan (1987: 8), secara singkat menjelaskan bahwa reading adalah bringing meaning and getting meaning from printed or written material, memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahasa tertulis.
            Pendapat lain yang dikemukakan oleh Lado dalam tulisan Tarigan (1987: 9) bahwa membaca adalah memahami pola-pola bahasa dari gambaran tertulisnya.
            Di lain pihak, Sugirin (1997: 3) menyatakan bahwa membaca adalah memahami isi buku sesuai dengan yang dimaksud oleh penulisnya. Pemahaman akan suatu isi buku atau bacaan merupakan hasil dari proses membaca, yaitu proses interaksi antara pembaca dan penulis. Paham akan suatu isi bacaan merupakan indikator kemampuan pembaca dalam memahami teks. Dengan demikian, kemampuan membaca pada dasarnya berkaitan dengan tingkat pemahaman dalam membaca sedangkan pemahaman terhadap suatu bacaan sangat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan membaca.
            Berdasarkan beberapa kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan untuk memperoleh dan memahami informasi dalam tulisan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis.
b.Tujuan Membaca
            Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna bacaan (Tarigan, 1987: 9).
Anderson lewat Tarigan (1987: 9-10) mengemukakan tujuan membaca adalah
untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details facts), memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas), mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization), menyimpulkan (reading for inference), mengklasifikasikan (reading to classify), mengevaluasi
(reading to evaluate), membandingkan (reading to compare or contrast).
c.  Membaca Kreatif
            Harras dan Sulistyaningsih (1997: 2.29) mengutip dari Dictionary of
Reading menyebutkan bahwa membaca kreatif (creative reading) merupakan
proses membaca untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan yang baru yang terdapat dalam bacaan dengan mengidentifikasi gagasan yang menonjol atau mengkombinasikan pengetahuan yang sebelumnya pernah didapatkan. Pembaca kreatif dituntut untuk cermat dalam menyikapi ide-ide dari bahan bacaan. Setelah itu, pembaca kreatif harus membandingkannya dengan ide sejenis yang mungkin berbeda.
            Membaca kreatif merupakan tingkatan tertinggi dari kemampuan membaca. Hal ini disebabkan oleh tuntutan bahwa setelah membaca, seseorang harus menerapkannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Menurut Nurhadi seperti dikutip oleh Harras dan Sulistyaningsih (1997: 2.30), ciri-ciri pembaca kreatif ialah: (1) kegiatan membaca tidak berhenti pada saat menutup buku, (2) mampu menerapkan bahan bacaan untuk kepentingan hidupnya, (3) muncul perubahan sikap dan perilaku setelah membaca, (4) hasil membaca berlaku sepanjang masa, (5) kritis dan kreatif dalam menilai bahan-bahan bacaan, (6) mampu memecahkan masalah kehidupan berdasarkan hasil bacaan yang telah dibaca.
            Sejalan dengan pendapat di atas, Jabrohim dkk (2003: 72 – 75) secara lebih umum memperinci ciri-ciri orang kreatif, yaitu; (1) keterbukaan terhadap pengalaman baru dan mudah bereaksi alternatif-alternatif baru mengenai suatu keadaan, (2) keluwesan (fleksibel) dalam berpikir artinya ia dapat memilih dan mengetahui berbagai pendekatan yang mungkin dapat dipergunakan dalam memecahkan suatu persoalan tanpa mengabaikan tujuan utamanya, (3) kebebasan dalam mengemukakan pendapat, cenderung tidak suka berdiam diri terhadap keadaan sebagaimana adanya yang kurang memuaskan, dan cenderung ingin membuat bentuk yang baru dari suatu objek yang diamatinya, (4) imajinatif, dan berpendapat bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi, (5) perhatiannya yang besar pada kegiatan cipta-mencipta suatu karya kreatif, (6) keteguhan dalam mengajukan pendapat atau pandangan, dan (7) kemandiriannya dalam mengambil keputusan.
            Untuk memicu daya kreatif, ada empat langkah yang ditawarkan: (1) berjanjilah untuk membaca secara kreatif setiap hari, (2) membaca secara sedikit demi sedikit, (3) bacalah sesuatu dari beragam sumber bacaan, (4) terapkan apa yang dibaca dalam kehidupan sehari-hari (Kisyani dan Laksono, 2002).
            Pada sisi lain, menurut Kisyani dan Laksono (2002), membaca buku merupakan kegiatan yang memasukkan kata-kata dan ide ke dalam diri seseorang (pembaca). Semakin berkualitas kata-kata dan ide yang masuk dalam diri pembaca, semakin berkualitaslah pembaca itu. Tulisan yang berkualitas akan mendorong timbulnya gagasan cemerlang, tambahan kosakata, dan hal-hal penting lainnya. Semua itu akan diserap otak dan disimpan serta dipancarkan ke
seluruh tubuh. Lewat kata dan ide yang berkualitas, pembaca dapat meneruskan dan menindaklanjuti hasil bacaannya pada tahap menulis dan berbicara kepada orang lain untuk membaca atau mendengarkan apa yang dia tulis dan ujarkan.
3. Hakikat Kemampuan Menulis Puisi
            Puisi sebagai salah satu genre sastra, sebagian besar diciptakan dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Dengan dituangkannya hasil penciptaan puisi dalam bentuk tulisan, puisi akan lebih bertahan lama daripada hanya diciptakan dan disampaikan dalam bentuk lisan. Dengan demikian, sangat jelas bahwa aktivitas penciptaan karya sastra beserta proses kreatifnya berkaitan erat dengan keterampilan menulis, mengingat karya sastra adalah salah satu genre seni yang bermediakan bahasa.
            Berikut ini dipaparkan pengertian menulis, tujuan dan manfaat menulis,
hakikat puisi, pengertian menulis puisi, dan penilaian keterampilan menulis puisi
a. Pengertian Menulis
            Keterampilan menulis merupakan suatu keterampilan untuk mengungkapkan ide, pikiran, perasaan kepada orang lain. Melalui tulisan, seseorang dapat berkomunikasi tanpa berhadap-hadapan langsung.
            Menurut Hastuti (1992), keterampilan menulis adalah keterampilan yang sangat kompleks. Menulis melibatkan cara berpikir dan kemampuan mengungkapkan pikiran gagasan, perasaan dalam bentuk bahasa tertulis dengan memperhatikan beberapa syarat, yaitu: (1) keteraturan gagasan, (2) kemampuan menyusun kalimat yang jelas dan efektif, (3) keterampilan menyusun paragraf, (4) menguasai teknik penulisan seperti penemuan tanda baca (pungtuasi), dan (5) memiliki sejumlah kata yang diperlukan.
            Tarigan (1986: 21) menyatakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan salah satu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang- lambang grafik tersebut. Menulis bukan sekedar menggambarkan huruf-huruf, tetapi juga menyampaikan pesan melalui gambar huruf-huruf tersebut berupa karangan. Karangan sebagai ekspresi pikiran, gagasan ide, pendapat, pengalaman disusun secara sistematis dan logis. Keterampilan menulis dibutuhkan untuk merekam, meyakinkan, memberitahukan, serta mempengaruhi orang lain. Semua tujuan hanya dapat diperoleh apabila disusun dan disampaikan dengan jelas.
            Menurut Akhadiah (1995: 2), menulis dapat didefinisikan sebagai: (1) merupakan suatu bentuk komunikasi, (2) merupakan proses pemikiran yang dimulai dengan pemikiran tentang gagasan yang akan disampaikan, (3) merupakan bentuk komunikasi yang berbeda dengan bercakap-cakap; dalam tulisan tidak terdapat intonasi, ekspresi wajah, gerakan fisik, serta situasi yang menyertai percakapan, (4) merupakan suatu ragam komunikasi yang perlu dilengkapi dengan alat-alat penjelas serta ejaan dan tanda baca, (5) merupakan bentuk komunikasi untuk menyampaikan gagasan penulis kepada khalayak pembaca yang dibatasi oleh jarak,tempat, dan waktu.
            Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah salah satu bentuk komunikasi untuk menyampaikan ide secara teratur dan sistematik melalui bahasa tulis dengan tujuan tertentu.
b. Tujuan dan Manfaat Menulis
            Hakim (1995) menyatakan bahwa keterampilan menulis menjadi salah cara untuk berkomunikasi, karena dalam pengertian tersebut muncul adanya kesan pengiriman dan penerimaan pesan. Dengan demikian, tulisan harus dapat dibaca dan mudah dipahami agar penerima pesan dapat menangkap pesan secara baik dan benar.
            Hipple (dalam Tarigan, 1987: 309-311) mengemukakan tujuan menulis yang meliputi: (1) penugasan, (2) altruistik, (3) persuasif, (4) informasional tujuan penerangan, (5) pernyataan diri, (6) kreatif, dan (7) pemecahan masalah.
Selain memiliki tujuan, kegiatan menulis dapat memberikan berbagai manfaat.        c. Hakikat Puisi
            Puisi merupakan salah satu genre sastra. Pengertian puisi sungguh beragam dan masih sering dipertanyakan. Beberapa ahli sastra merumuskan pengertian puisi dengan menggunakan berbagai pendekatan. Padahal, satu pendekatan saja tidak mungkin mencakup seluruh aspek yang terdapat dalam puisi. Oleh karena itu, wajar jika satu pengertian yang dikemukakan seorang ahli berbeda dengan pengertian yang dilontarkan oleh ahli yang lain.
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003: 903), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait atau merupakan gubahan di bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.
            Sumardjo dan Saini K.M. menggolongkan puisi sebagai karya sastra imajinatif. Puisi merupakan jaringan irama dan bunyi serta jaringan citra dan lambang. Sementara itu, Pradopo (2002: 7) menyatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting dan digubah dalam wujud yang paling berkesan. Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan (Pradopo, 1993 : 7).
            Sementara itu, Sayuti (2002: 3 – 4) menyatakan bahwa secara sederhana puisi dapat dirumuskan sebagai “sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya; yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya”.
            Luxemburg dkk. (1986: 175) menyatakan bahwa teks puisi ialah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama sebuah alur. Teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu. Definisi ini tidak hanya mencakup jenis-jenis sastra, melainkan juga ungkapan bahasa yang bersifat pepatah, pesan iklan, semboyan
politik, syair lagu-lagu pop, dan doa-doa.
            Adapun A. Richard seperti dikutip Tarigan (1991: 9) menyatakan bahwa hakikat puisi mengandung makna keseluruhan yang merupakan perpaduan dari tema, perasaan, nada, dan amanat. Dengan demikian, hakekat puisi menurut Richards terdiri atas (1) tema/makna (sense), (2) rasa (feeling), (3) nada (tone), dan (4) amanat/tujuan/maksud (intention) (Tarigan, 1991: 10). Hal ini sejalan dengan Sumardjo dan Saini K.M. (1997: 124-125) yang menyatakan 4 arti puisi, yakni arti lugas (gagasan penyair), perasaan penyair, nada, dan itikad.
            Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra harus mengandung fungsi estetik yang ada dalam setiap penciptaan karya sastra. Wellek dan Warren (1968: 25) mengemukakan bahwa paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang di dalamnya fungsi estetikanya dominan, yaitu fungsi seninya yang berkuasa. Tanpa fungsi seni, karya kebahasaan tidak dapat disebut sebagai karya (seni) sastra.
            Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra. Oleh karena itu, fungsi estetiknya dominan, artinya di dalamnya terdapat unsur-unsur keindahan. Unsur- unsur keindahan ini merupakan unsur-unsur kepuitisan, misalnya persajakan, diksi (pilihan kata), irama, dan gaya bahasa.
            Gaya bahasa dalam puisi meliputi semua penggunaan bahasa secara khusus yang bertujuan untuk mendapatkan efek tertentu, yakni efek estetikanya atau aspek kepuitisannya (Pradopo, 1994: 47). Jenis-jenis gaya bahasa itu meliputi semua aspek bahasa, yaitu bunyi, kata, kalimat, dan wacana yang dipergunakan secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu itu. Semua itu merupakan aspek estetika atau aspek keindahan puisi.
            Berdasarkan pengertian-pengertian puisi di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi ialah hasil imajinasi dan gagasan penyair yang dituangkan dalam bentuk tipografi yang spesifik.
Menulis Puisi
            Menulis puisi merupakan salah satu bentuk menulis kreatif. Menulis puisi adalah suatu kegiatan intelektual, yakni kegiatan yang menuntut seseorang harus benar-benar cerdas, menguasai bahasa, luas wawasannya, dan peka perasaannya. Menulis puisi bermula dari proses kreatif, yakni mengimajikan atau mengembangkan fakta-fakta empirik yang kemudian diwujudkan dalam bentuk puisi. Kemudian, untuk menuangkannya menjadi sebentuk puisi, kita harus terlebih dahulu memahami unsur-unsur pembentuk puisi (Jabrohim dkk., 2003: 31-33).
            Adapun pengimajian berguna untuk memberi gambaran yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat hidup gambaran dalam pikiran dan pengindraan, untuk menarik perhatian, dan untuk memberikan kesan mental atau bayangan visual penyair. Gambaran angan, gambaran pikiran, kesan mental, dan bahasa yang menggambarkannya biasa disebut dengan istilah citra atau imaji. adapun cara membentuk kesan mental atau gambaran sesuatu biasa disebut dengan istilah citraan (imagery). Hal-hal yang berkaitan dengan citra ataupun citraan disebut pencitraan atau pengimajian.
            Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Di sini, penyair berusaha mengkonkretkan kata- kata. Maksudnya, kata-kata itu diupayakan agar dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Dalam hubungannya dengan pengimajian, kata konkret merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian.
            Bahasa figuratif dapat disebut juga sebagai majas. Bahasa puisi dapat membuat puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Adapun versifikasi meliputi ritma, rima, dan metrum. Secara umum, ritma dikenal sebagai irama, yakni pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur.
            Rima adalah pengulangan bunyi di dalam baris atau larik puisi, pada akhir baris puisi, atau bahkan juga pada keseluruhan baris dan bait puisi. Jika fonetik itu berpadu dengan ritma, maka akan mampu mempertegas makna puisi. Rima meliputi onomatope (tiruan terhadap bunyi-bunyi), bentuk intern pola bunyi (misalnya: aliterasi, asonansi, persamaan akhir, peramaan awal, sajak berulang, sajak penuh), intonasi, repetisi bunyi atau kata, dan persamaan bunyi.
            Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Hal ini disebabkan oleh jumlah suku kata yang tetap, tekanan yang tetap, dan alun suara menaik dan menurun yang tetap.
            Tipografi merupakan pembeda yang paling awal dapat dilihat dalam
membedakan puisi dengan prosa fiksi dan drama. Dalam prosa, baik fiksi maupun bukan, baris-baris kata atau kalimat membentuk sebuah periodisitas. Namun, dalam puisi tidak demikian halnya. Baris-baris dalam puisi membentuk sebuah periodisitas yang khas yang disebut bait.
            Selain terdapat struktur fisik dalam puisi, Waluyo juga menjelaskan
tentang struktur batin yang terdapat dalam puisi. Menurut Waluyo, struktur batin mencakup tema, perasaan penyair, nada atau sikap penyair terhadap pembaca, dan amanat. Keempat unsur itu menyatu dalam ujud penyampaian bahasa penyair.
            Tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran pengarang dan menjadi dasar bagi puisi yang diciptakan penyair. Tema puisi berhubungan erat dengan penyairnya, terutama pada konsep-konsep yang diimajinasikannya. Tarigan (1991: 10) mengemukakan bahwa setiap puisi mengandung suatu “subject matter” yang dikemukakan atau ditonjolkan. Makna yang terkandung dalam “subject matter” itulah yang dimaksudkan dengan istilah tema. Tema sering kali dituangkan atau disampaikan oleh penyairnya secara implisit, tidak disebutkan secara gamblang dalam puisi.
            Rasa adalah sikap sang penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya (Tarigan, 1991: 11). Perasaan penyair ikut terekspresikan dalam puisi. Oleh karena itulah, suatu tema yang sama sering kali menghasilkan puisi yang berbeda, tergantung suasana perasaan penyair yang menciptakan puisi itu.
            Nada dalam puisi adalah sikap penyair kepada pembaca (Jabrohim dkk, 2003: 66). Hal ini sesuai dengan pernyataan Tarigan (1991: 18) bahwa nada adalah sikap sang penyair terhadap pembacanya atau dengan kata lain sikap sang penyair terhadap para penikmat karyanya. Dalam menulis puisi, penyair bisa bersikap menggurui, mengejek, menasihati, atau menyindir meski kadang sikap itu disamarkan melalui gaya bahasa dan sarana retorika yang dipakai dalam puisi.
            Amanat atau tujuan dalam puisi ialah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya Amanat berbeda dengan tema. Dalam puisi, tema berkaitan dengan arti sedangkan amanat berkaitan dengan makna karya sastra. Arti puisi bersifat lugas, objektif, dan khusus sedangkan makna bersifat kias, subjektif, dan umum (Jabrohim dkk, 2003: 67).
            Stephen Spender melalui Tarigan (1991: 48) menyebutkan lima hal yang diperlukan dalam menciptakan suatu puisi, yakni: (1) konsentrasi/consentration, (2) inspirasi/inspiration, (3) kenangan/memory, (4) keyakinan/faith, (5) lagu/song. Kelima unsur ini akan sangat berperan dalam menciptakan atau menulis puisi.

Penilaian Keterampilan Menulis Puisi

            Menurut Arifin yang dikutip Suriamiharja dkk (1996: 5), keterampilan
menulis dapat dilihat melalui jalan tes; karena tes merupakan suatu cara dalam angka kegiatan evaluasi, yang di dalamnya terdapat berbagai item atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh siswa, kemudian pekerjaan dan jawaban itu akan menghasilkan nilai tentang perilaku siswa tersebut.
            Nurgiyantoro (2001: 298 – 305) mengungkapkan bahwa cara menilai kemampuan menulis adalah melalui jalan tes. Namun, ditegaskan olehnya bahwa penilaian yang dilakukan terhadap karangan siswa biasanya bersifat holistik, impresif, dan selintas; yaitu penilaian yang bersifat menyeluruh berdasarkan kesan yang diperoleh dari membaca karangan siswa secara selintas.
            Selain penilaian yang bersifat holistik, diperlukan pula penilaian secara analitis agar guru dalam memberikan nilai secara lebih objektif dan dapat memperoleh informasi lebih rinci tentang kemampuan siswanya. Penilaian dengan pendekatan analitis merinci tulisan dalam kategori tertentu. Pengkategorian itu sangatlah bervariasi, bergantung pada jenis tulisan itu sendiri. Namun, pada pokoknya pengkategorian hendaknya meliputi: (1) kualitas dan ruang lingkup isi, (2) organisasi dan penyajian isi, (3) gaya dan bentuk bahasa, (4) mekanik: tata bahasa, ejaan, tanda baca, keterampilan tulisan, dan kebersihan, dan (5) respon afektif guru terhadap karya tulis. Nurgiyantoro (2001: 306) mencontohkan model penilaian dengan pemberian skala terhadap kategori-kategori seperti yang disebutkan di atas.

Sumbangan Kebiasaan Menyimak Lagu terhadap Kemampuan Menulis
Puisi

            Hubungan antara lagu dengan puisi jelas sangat erat. Salah satu unsur yang
menonjol dalam puisi ialah ritme dan nada. Unsur tersebut juga terdapat dalam lagu. Bahkan Tarigan (1991: 5) mengemukakan bahwa salah satu maksud utama puisi pada umumnya “not to speak but to sing”, “bukan berbicara tetapi berdendang”. Dengan membiasakan diri menyimak lagu, tentunya penyimak akan mendapatkan referensi tentang irama yang dapat digunakan sebagai modal untuk menulis puisi. Penyimak bahkan akan mendapatkan kosakata melalui lirik lagu yang disimak. Kosakata yang terdapat dalam lirik lagu tentunya mengandung gaya bahasa yang tinggi. Kosakata tersebut juga menjadi modal bagi seseorang untuk menulis puisi.
            Dengan demikian, kebiasaan menyimak lagu akan memberikan kontribusi terhadap kemampuan menulis puisi siswa. Semakin besar intensitas menyiak lagu seorang siswa akan semakin banyak kosakata yang didapat, semakin matang pengalaman musikal yang didapat, dan semakin banyak pula pengalaman estetik. Semua itu dapat menjadi penyumbang dalam menulis puisi.
Sumbangan Kebiasaan Membaca Kreatif terhadap Kemampuan Menulis
Puisi
            Membaca kreatif pada hakikatnya adalah menerapkan hasil bacaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil kreativitas membaca dapat diterapkan dalam bentuk tulisan. Semakin banyak kita membaca dengan kreatif, semakin banyak hasil menulis kreatif. Sebab, dengan membaca, kita akan mendapatkan bahan untuk menulis.
            Salah satu bentuk menulis kreatif ialah menulis puisi. Dalam menulis puisi, diperlukan suatu proses kreatif. Salah satunya ialah melalui membaca kreatif. Sebagai contoh ialah membaca teks lagu atau membaca cerita. Hasil bacaan itu dapat dimodifikasi menjadi sebuah tulisan puisi. Tentu saja dalam memodifikasi bahan bacaan itu memerlukan teknik membaca, yaitu dengan membaca kreatif.
            Dengan demikian, antara membaca kreatif dengan kemampuan menulis puisi mempunyai hubungan yang erat. Seseorang tidak akan mempunyai kemampuan yang baik untuk menulis tanpa kebiasaan membaca. Apalagi menulis puisi yang memerlukan proses kreatif terlebih dahulu. Membaca kreatif dapat dijadikan sebuah proses kreatif dalam menulis puisi.
            Jadi, kebiasaan membaca kreatif akan memberikan sumbangan terhadap kemampuan menulis puisi melalui proses kreatif menulis puisi yang didahului dengan proses kreatif dalam membaca.
Sumbangan Kebiasaan Menyimak Lagu dan Kebiasaan Membaca Kreatif
terhadap Kemampuan Menulis Puisi
            Anak mengenal bahasa melalui menyimak. Setelah menyimak anak tersebut berusaha untuk berbicara menirukan bahasa yang disimak. Tahap berikutnya, anak akan berlatih membaca dan berusaha untuk mengenal bentuk tulisan (wacana). Setelah itu, ia akan berusaha untuk menulis.
            Dengan kebiasaan menyimak lagu misalnya, pemerolehan kosakata dan model atau bentuk puisi yang diperoleh dari lirik lagu serta irama lagu akan menjadi sebuah kontribusi yang signifikan dalam proses kreatif menulis puisi. Proses kreatif menulis puisi itu akan semakin sempurna dengan kegiatan membaca kreatif. Hasil bacaan lirik lagu atau bacaan cerita dapat menjadi kontribusi dalam menulis puisi.
            Dengan demikian, keberhasilan menulis kreatif karya sastra khususnya puisi berhubungan dengan kegiatan menyimak dan membaca. Kesanggupan mengamalkan pemerolehannya dari kegiatan menyimak lagu dan membaca kreatif merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam kegiatan menulis puisi. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa menyimak lagu dan membaca kreatif memberikan sumbangan yang signifikan terhadap kemampuan menulis puisi.

Pengajuan Hipotesis

            Hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah:
terdapat sumbangan yang efektif kebiasaan menyimak lagu terhadap kemampuan
menulis puisi siswa kelas Cterdapat sumbangan yang efektif kebiasaan membaca kreatif terhadap kemampuan menulis puisi siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin terdapat sumbangan yang efektif kebiasaan menyimak lagu dan kebiasaan membaca kreatif terhadap kemampuan menulis puisi siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin


BAB III
METODE PENELITIAN

Desain Penelitian
            Sesuai dengan tujuannya, penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain regresi, yakni pada prinsipnya hampir sama dengan korelasi karena mencari hubungan antarvariabel. Namun dalam desain regresi, kekuatan arah hubungan sudah jelas, mana yang dipandang sebagai variabel bebas dan mana yang dipandang sebagai variabel terikat.
            Penelitian ini menggunakan desain ex post facto. Penelitian ini hanya mengambil data yang telah tersedia dan tidak melakukan tindakan di lapangan. Peneliti tidak perlu memberikan perlakuan terhadap sampel penelitian tetapi tinggal melihat efeknya pada variabel terikat.
            Terdapat tiga variabel dalam penelitian ini. Kebiasaan menyimak lagu (X1) dan membaca kreatif (X2) merupakan variabel bebas sedangkan kemampuan
menulis puisi (Y) merupakan variabel terikat. Hubungan antarvariabel dapat
digambarkan dalam desain penelitian sebagai berikut
Gambar 1: Desain penelitian
Keterangan:
X1 = kebiasaan menyimak lagu
X2 = kebiasaan membaca kreatif
Y = kemampuan menulis puisi
Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri atas variabel bebas (independent
variable) dan variabel terikat (dependent variable).
1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kebiasaan menyimak lagu (X1)
dan kebiasaan membaca kreatif (X2).
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan menulis puisi (Y).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan menulis puisi (Y).

Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi Penelitian
Menurut Arikunto (1996: 115) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Selanjutnya, populasi ditinjau dari jumlahnya terdiri atas (1) jumlah terhingga, dan (2) jumlah tidak terhingga. Populasi jumlah terhingga terdiri atas elemen dengan jumlah tertentu sedangkan populasi jumlah tak terhingga adalah elemen yang sukar dicari batasnya.
Populasi penelitian ini termasuk dalam populasi jumlah terhingga karena yang menjadi populasi sudah diketahui jumlahnya, yaitu siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Muara Padang Kabupaten Banyuasin
Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2005: 56), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Untuk menentukan berapa besarnya sampel yang harus diambil, digunakan Nomogram Harry King. Harry King menghitung sampel tidak hanya didasarkan kesalahan 5% saja, tetapi bervariasi sampai 15% (Sugiyono, 2005: 62). Dengan taraf signifikansi 5%, maka jumlah sampel yang diambil sebesar 60% sehingga jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 60% x 187 = 112,2 dan dibulatkan menjadi 113.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster
random sampling
atau cluster sampling. Suyata (1994: 34) mengemukakan bahwa
cluster sampling ialah prosedur seleksi sampel yang unit seleksinya berupa klaster (kelas-kelas atau kelompok-kelompok). Pengambilan sampel dengan metode ini karena populasi telah terkelompok ke dalam bentuk kelas-kelas. Metode cluster sampling digunakan agar peneliti lebih mudah dan praktis dalam mengumpulkan data, dengan tidak mengabaikan bahwa setiap anggota populasi mendapatkan kesempatan yang sama untuk sampel.
Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, digunakan teknik kuesioner dan tes. Kuesioner merupakan satu perangkat pertanyaan atau pernyataan tentang suatu hal dipakai untuk menjaring data yang sifatnya informatif faktual atau yang bersifat fakta konkret (Suyata, 1994: 38). Teknik kuesioner atau angket ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai kebiasaan menyimak lagu dan kebiasaan membaca kreatif. Jenis angket dalam penelitian ini adalah: 1) angket tertutup, artinya responden tinggal memilih jawaban yang disediakan, 2) angket langsung, yaitu responden menjawab secara langsung, 3) angket jenis check list (responden memberi tanda √).
Alasan pemilihan angket atau kuesioner sebagai teknik pengumpulan data karena: 1) subjek merupakan orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri, 2) apa yang dinyatakan subjek merupakan sesuatu yang benar dan dapat dipercaya, dan 3) subjek dapat menginterpretasikan pertanyaan dengan mudah.
Adapun tes digunakan untuk menunjuk semua jenis instrumen yang dirancang untuk mengukur kemampuan seseorang dalam bidang tertentu (Suyata, 1994: 39). Dalam penelitian ini, metode tes digunakan untuk mengumpulkan data
emampuan menulis puisi, yakni dengan menggunakan tes kemampuan menulis
puisi.
Instrumen Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan tiga instrumen untuk mengumpulkan data. Instrumen tersebut meliputi instrumen kebiasaan menyimak lagu, instrumen kebiasaan membaca kreatif, dan instrumen kemampuan menulis puisi. Adapun jenis instrumen yang digunakan berupa kuesioner atau angket dan tes.
a. Instrumen Kebiasaan Menyimak Lagu
Instrumen untuk memperoleh data mengenai kebiasaan menyimak lagu berbentuk angket. Isi angket ini berhubungan dengan faktor kebiasaan menyimak lagu dan diukur dengan kisi-kisi sebagai berikut: (1) perhatian terhadap lagu, (2) waktu dan intensitas mengikuti lagu, (3) keseriusan mengikuti lagu, (4) manfaat mengikuti lagu, dan (5) kesan terhadap lagu. Kelima hal tersebut dijadikan indikator dalam kisi-kisi instrumen. Setiap indikator diberi porsi 7 butir pertanyaan. Dengan demikian, jumlah pertanyaan dalam instrumen kebiasaan menyimak lagu adalah 35 butir pertanyaan.
Setiap butir terdiri atas empat jawaban alternatif. Agar data yang diperoleh berupa data kuantitatif, setiap jawaban diberi skor. Skor pengukuran yang digunakan adalah model skala likert yang dilakukan dengan menyediakan skala jawaban terhadap suatu pernyataan/pertanyaan yang diberikan (Nurgiyantoro, 2001: 328). Skala jawaban SL (selalu) dengan skor 4, SR (sering) dengan skor 3, KD (kadang-kadang) dengan skor 2, dan TP (tidak pernah) dengan skor 1 Penyekoran ini tidak mutlak, artinya jika pertanyaan negatif maka skala penyekoran dibalik menjadi SL (selalu) dengan skor 1, SR (sering) dengan skor 2, KD (kadang-kadang) dengan skor 3, dan TP (tidak pernah) dengan skor 4.
b. Instrumen Kebiasaan Membaca Kreatif
Untuk memperoleh data mengenai kebiasaan membaca kreatif juga digunakan instrumen berupa angket. Adapun kisi-kisi instrumen angket yang berhubungan dengan kebiasaan membaca kreatif ialah (1) waktu dan intensitas membaca kreatif, (2) keseriusan membaca kreatif, (3) manfaat membaca kreatif, (4) kesan yang diperoleh setelah membaca kreatif, (5) hasil membaca kreatif. Setiap indikator diberi porsi 7 butir pertanyaan. Dengan demikian, jumlah pertanyaan dalam instrumen kebiasaan membaca kreatif adalah 35 butir pertanyaan.
Instrumen kebiasaan membaca kreatif juga menggunakan empat alternatif jawaban dengan kriteria penyekoran seperti yang digunakan pada penyekoran instrumen kebiasaan menyimak lagu. Adapun penjabaran tiap-tiap indikator ke
dalam butir pertanyaan
Instrumen Kemampuan Menulis Puisi
Instrumen untuk memperoleh data mengenai kemampuan menulis puisi berupa tes kemampuan menulis puisi. Tes kemampuan menulis puisi dibuat dalam bentuk tes esai. Penilaiannya dilakukan dengan berpedoman pada rambu-rambu penilaian tes menulis puisi. Adapun kisi-kisi penilaian menulis puisi
2. Uji Coba Instrumen
Agar instrumen yang dipersiapkan untuk mengumpulkan data penelitian benar-benar mengukur apa yang hendak diukur, dilakukan ujicoba instrumen terhadap populasi. Tujuannya adalah untuk menguji validitas dan realibitas. Arikunto (1996: 158) mengatakan bahwa instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting, yaitu valid dan reliabel.
Instrumen penelitian kebiasaan yang berupa 35 butir soal diujicobakan di kelas yang tidak dijadikan sampel penelitian. Ujicoba instrumen dilakukan di kelas VI SDN Karuh Kecamatan Batu Mandi pada hari selasa, tanggal 22 juni 2010 selama 2 jam pelajaran atau 90 menit. Ujicoba dilakukan pada 35 siswa. Selanjutnya, instrumen penelitian ini dievaluasi. Evaluasi dilakukan agar validitas dan reliabilitas sebuah instrumen dapat diketahui.
Validitas Instrumen
Instrumen penelitian dikatakan valid apabila dapat mengungkap data secara tepat atas variabel yang diteliti. Validitas konstruk (construct validity) digunakan untuk menguji kelayakan instrumen kebiasaan sedangkan pengujian instrumen tes kemampuan menulis puisi menggunakan validitas isi
Untuk mengukur validitas butir soal, penelitian ini menggunakan korelasi
product moment dari Pearson pada taraf signifikansi 5%. Kriteria uji validitas
adalah apabila harga rhitung setelah dikonsultasikan dengan rtabel hasilnya sama atau lebih besar pada taraf signifikansi 5%, maka butir soal tersebut valid. Akan tetapi, jika harga r hitung setelah dikonsultasikan dengan r tabel harganya lebih kecil pada taraf signifikansi 5%, maka butir soal tersebut dinyatakan gugur.
Pengujian kelayakan instrumen tes kemampuan menulis puisi menggunakan uji validitas isi. Menurut Nurgiyantoro (2001: 103), kesahihan isi menunjukkan pada pengertian apakah alat tes itu mempunyai kesejajaran (sesuai) dengan tujuan dan deskripsi bahan pelajaran yang diajarkan. Untuk mengetahui apakah instrumen tersebut mempunyai kesahihan isi, instrumen tersebut dikonsultasikan terlebih dahulu kepada orang yang ahli (expert judgement), dalam hal ini dengan dosen pembimbing dan guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia.

No comments:

Post a Comment